WEBSITE

MamaOla

UNTUK MELIHAT ARTIKEL 2000-2009, KLIK ANAKMUDA.NET

UNTUK MELIHAT ARTIKEL 2010-DST, KLIK GF!ONLINE

Iri

Rabu 27 Agustus 2009

Bacaan hari ini: Yohanes 9:8-16

Ayat renungan: Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?" Maka timbullah pertentangan di antara mereka.

Yohanes 9:16

Waktu kita masuk dalam pelayanan, kita bakal alamin banyak masalah. Mulai dari masalah pribadi, masalah sama teman sepelayanan, sampe masalah sama orang lain. Salah satu masalah yang paling sering muncul di pelayanan adalah iri hati.

Di setiap pelayanan, pasti ada aja orang yang iri sama kita. Dari zaman Yesus juga gitu, jadi gak usah heran. Mesti gimana kita kalau ada orang yang iri sama pelayanan kita? Ikutin aja teladan Yesus. Cuek bebek. Selama kita melayani Tuhan dengan hati yang benar, gak usah peduli apa kata orang. Maju terus.

Tapi sebelum kita beneran cuek bebek, pastikan dulu kita melayani Tuhan dengan hati yang benar en kita melayani di tempat yang tepat. Kalau kita udah yakin dengan pelayanan kita, baru kita bisa cuek bebek sama orang yang iri sama kita. (an)

Bekas paku

Selasa 26 Agustus 2009

Bacaan hari ini: Yehezkiel 36:22-33

Ayat renungan: Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Yehezkiel 36:26

Ada seorang ayah yang pengen ngajarin anaknya arti pengampunan. Pertama dia tancepin papan ke tanah. Terus di papan itu ditancepin paku yang banyak. Udah gitu pakunya pada dicabutin. Tapi tetap aja ada bekas pakunya. Papannya bolong-bolong. Si papa terus cabut papan itu diganti sama papan yang baru. Udah gitu si papa nya ngomong. ‘Nak, papan itu hati kita. Paku tadi itu dosa yang kita lakuin. Waktu Tuhan mengampuni kita, Dia gak cabutin pakunya satu-satunya, karena pasti ada bekasnya. Dia ganti sama papan yang baru. Itu yang namanya pengampunan Tuhan. Dia gak lupain dosa kita satu-satu, tapi Dia kasih kita hati yang baru. Dia lupain semua yang udah kita lakuin en kasih hati yang baru.’ (dp)

I LOVE ME

Kulitnya sering melepuh, gak bisa keluar rumah gara-gara sensitif sinar matahari, duduk aja susah, apalagi berjalan. Sehari-hari ia hanya tidur di kamar yang remang. Ia memang lahir normal, tapi di usia lima tahun ia kena penyakit langka yang disebut dermatomyositis yang menyerang imun tubuhnya. Imun yang harusnya melindungi malah menyerang tubuhnya.

“Jujur, gw pernah marah sama Tuhan. Hampir lima tahun! Bayangkan tiap hari badan gw sakitnya luar biasa. Kulit mengelupas dan berdarah. Gak bisa ketawa, gak bisa nangis, soalnya syarafnya kejepit.” Gitu kenang Maria Beatrix, gadis kelahiran 1 Mei 1980 ini. Tapi kemudian ia membaca kisah Ayub di Alkitab. “Gw jadi dikuatkan banget. Apapun yang terjadi dalam hidup gw, gw tau Tuhan mengasihi gw.”

Lebih dari 20 tahun Maria Beatrix hidup dalam kesakitan. Tapi itu hanya di tubuhnya. Kepercayaan dirinya nggak terpengaruh. Ia mengerti kalo ia adalah ciptaan Tuhan yang unik. Maria menemukan kalo Tuhan memberinya kreatifitas dan cepat belajar. Meski gak keluar rumah, melalui internet ia menyerap semua ilmu pengetahuan. Ia membuat barang-barang hasil kreasinya yang bisa ia jual. “Ada banyak orang yang sempurna tubuhnya tapi gak sempurna pikirannya. Ada banyak cobaan menimpa tubuh gw, tapi itu nggak ngancurin jiwa gw. Life is a gift. Gw spesial karena Tuhan yang menjadikan gw spesial.” Ujarnya semangat, “Gw udah bangkit dan gw pengen hidup lebih baik lagi sekarang”.

Hmmm. Mungkin nggak banyak dari kita harus ngalamin penderitaan fisik yang pernah dialami sama teman kita ini. Tapi kayak yang dibilang sama Beatrix, mungkin tubuh kita normal tapi pikiran kita justru yang menghalangi kita buat terus maju. Coba sebutin satu hal dari diri kita yang gak kita sukai. Wah kita pasti bisa nyebutin lebih dari satu, hehe. Dari cara kita memandang diri kita sendiri itulah terbentuklah citra diri atau gambar diri.

Citra diri atau gambar diri adalah suatu perasaan jauh di dalam diri kita tentang diri sendiri. Citra dirilah yang bilang: “Gw suka diri gw” atau sebaliknya, “gw gak suka sama diri gw!”. Citra diri yang sehat adalah faktor penting penentu keberhasilan dan kebahagiaan seseorang, lho! Soalnya kita cenderung buat berlaku, bersikap, bertindak dan bereaksi sebagai seseorang yang kita anggap diri kita, mau salah atau bener. Citra diri yang nggak sehat bisa bikin kita jadi minder (menganggap dirinya buruk) atau sebaliknya malah jadi narsis or over pede (menganggap dirinya baik tapi secara berlebihan).

Citra diri adalah suatu pemerintahan bawah sadar yang bisa nyetir tindakan kita. Citra diri jugalah yang ngebatesin kita, kalo kita melampaui pengharapan kita maka citra diri bakalan menariknya kembali ke bawah. Juga sebaliknya kalo kita jatuh di bawah citra diri kita, maka citra diri itulah akan mengangkatnya.

Darimana sih kita mendapatkan citra diri? Biasanya kita mendapatkannya sebagai akibat dari apa yang kita dengar dari orang lain tentang kita, misalnya dari ortu kita, temen, pemimpin atau bahkan diri kita sendiri. Padahal, citra diri yang sehat adalah apa yang Tuhan katakan tentang kita.

Tuhan pengen kita mempunyai citra diri yang sehat, positif dan memandang diri kita sendiri sebagai harta karun yang gak ternilai harganya. Tuhan tau kok kita punya kekurangan dan kelemahan dan sering berbuat kesalahan, tapi Tuhan tetep mengasihi kita. Ia ingin kita merasa nyaman tentang diri kita sendiri. Tuhan menciptakan kita sesuai gambarNya dan Ia terus menerus membentuk kita dan menyesuaikannya dengan karakterNya, menolong kita menjadi serupa denganNya.

Kita harus belajar mengasihi diri kita sendiri, termasuk kelemahan kita, bukan karena kita orang egois atau karena ingin memaafkan kelemahan-kelemahan diri kita sendiri, melainkan karena begitulah Tuhan mengasihi kita. KasihNya pada kita bukan karena apa yang kita lakukan tapi karena siapa kita sebenernya di mataNya. Ia menciptakan kita sebagai pribadi yang unik, gak pernah ada sebelum atau sesudahnya, sekalipun kita anak kembar identik! Kita adalah masterpiece, mahakaryaNya.

Tuhan juga memandang kita sebagai pemenang. Tuhan percaya pada kita lebih daripada kita percaya pada diri kita sendiri. Sering kan Tuhan pengen kita melakukan yang besar tapi gara-gara citra diri kita yang buruk kita malah bilang or berpikir, “Tuhan, aku gak bisa melakukannya! Yang lain dulu deh!”

MINDER KEBLINGER

Taukah kamu, ada seorang raja yang tampan dan keren, tapi minder gak ketulungan, “...namanya Saul, seorang pemuda yang tampan dan tegap. Tak seorang pun di seluruh Israel yang lebih tampan dari dia. Badannya juga lebih tinggi; rata-rata tinggi orang Israel hanya sampai pundaknya.” (1 Samuel 9:2 BIS). Saul dipilih Tuhan buat jadi raja Israel, Tuhan menganggap diri Saul berharga dan memenuhi syarat. Tapi di hari penobatannya, Saul malah sembunyi. “Lalu mereka mencari Saul, tetapi ia tidak ada. Sebab itu orang-orang bertanya kepada TUHAN, "Ya TUHAN, apakah orang itu sudah ada di sini?" Jawab TUHAN, "Saul bersembunyi di belakang barang-barang perlengkapan." (1 Samuel 10:21-22 BIS). Saul ngumpet, dia pemalu, nggak pede, minder. Citra diri yang buruk ini bikin dia selalu merasa gak aman, ia selalu merasa Daud akan mengkudeta dia. Saul juga takut waktu menghadapi Goliat. Ketakutannya en keminderannya bikin dia sempet stress, dikuasai roh jahat dan kehilangan urapan Tuhan. Saul gak tau kalo sebenernya Tuhan percaya penuh padanya.

Itu juga sempet terjadi pada Gideon. Waktu Tuhan mencari pahlawan buat membebaskan bangsa Israel, ia mengutus Gideon. Tapi Gideon malah bilang gini, "Mengapa saya, TUHAN? Mana mungkin saya melepaskan umat Israel dari kekuasaan orang Midian. Di dalam suku Manasye, kaum sayalah yang paling lemah. Dan di dalam keluarga saya pun sayalah pula yang paling tak berarti.".

Gideon udah salah membentuk citra dirinya, ia melihat fisiknya yang kecil dan lemah, ia melihat keluarganya yang miskin dan tertindas. Tapi beruntung ia cepat mengubahnya, ia mulai setuju dengan citra diri yang Tuhan bilang padanya: “Hai, pemuda yang perkasa! TUHAN besertamu! Kamu pasti bisa!” (dikutip dari kitab Hakim-hakim 6 BIS).

Kita mungkin menganggap diri kita loser alias pecundang, penakut, lemah atau nggak berarti, tapi itu gak mengubah cara Dia memandang kita: seorang pemenang! “Kamu pasti bisa!” Kata Tuhan.

Beda ama Daud kecil waktu ngelawan Goliat. Biarpun keluarganya bilang dia kecil en lemah, saudara-saudaranya merendahkan dia, orang-orang menganggap remeh dia, tapi Daud memandang dirinya seperti Tuhan memandangnya. Waktu Goliat ngejek dia, “Untuk apa tongkat itu? Apakah kauanggap aku ini anjing? Ayo, maju! akan kuberikan tubuhmu kepada burung dan binatang supaya dimakan.". Tapi Daud menjawab, "Engkau datang melawanku dengan pedang, tombak dan lembing, tetapi aku datang melawanmu dengan nama TUHAN Yang Mahakuasa, Allah tentara Israel yang kauhina itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau kepadaku; engkau akan kukalahkan dan kepalamu akan kupenggal. Tubuhmu dan tubuh prajurit-prajurit Filistin akan kuberikan kepada burung dan binatang supaya dimakan. Maka seluruh dunia akan tahu bahwa kami bangsa Israel mempunyai Allah yang kami sembah, dan semua orang di sini akan melihat bahwa TUHAN tidak memerlukan pedang atau tombak untuk menyelamatkan umat-Nya. Dialah yang menentukan jalan peperangan ini dan Dia akan menyerahkan kamu ke dalam tangan kami." (Dikutip dari 1 Samuel 17 BIS).

Daud gak sempurna, tapi dia tau bahwa di hadapan Tuhan dan bersama Tuhan ia jadi sempurna. Tuhan gak pernah permasalahin ketidaksempurnaan kita. Jadi kita juga gak usah permasalahin segala macam tetek bengek kelemahan yang ada dalam diri kita. Tuhan senang memakai orang-orang biasa kayak kita-kita ini yang punya banyak kelemahan buat melakukan hal yang luar biasa. Paulus bilang, “...Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” (2 Korintus 12:9b).

Dalam film KungFu Panda, pada awalnya, para pendekar The Furious Five (yang terdiri dari Cengcorang, Harimau, Bangau, Monyet dan Ular) mengejek dan mentertawakan Po si Panda karena tubuhnya yang gendut. Tapi kemudian Pendekar Mantis (Cengcorang) berkata, “Siapa aku sehingga aku menilai pendekar dari ukuran tubuhnya?”. Dia mengingat bahwa dia sendiri hanyalah seekor serangga kecil, tapi seorang pendekar nggak dinilai dari ukuran tubuhnya. Pada akhirnya, Po membuktikan bahwa dialah sang Pendekar Naga. Minder membuat kita gak bisa maju. Saya jelek, saya gendut, saya gak pinter ngomong, saya pendek, saya suka gugup. Minder sebenernya hanyalah bentuk lain dari kesombongan, hanya saja kita sombong akan kekurangan kita dan meremehkan hasil karya Tuhan dalam hidup kita. Cari kelebihan kita, jangan biarkan orang lain menghakimi kita dan maju terus!

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”.( I Timotius 4:12). (www.facebook.com/gfreshmag)